Selasa, 29 September 2009
Sang Penjilat Imperialisme, SOEHARTO... (part III)
Di bidang media, tak lama setelah PKI dilarang, Radio Peking tercatat sebagai salah satu yang paling keras menyuarakan berita propaganda anti-Indonesia yang dipimpin Soeharto. Siaran bahasa Indonesia Radio Peking itu sangat populer di Indonesia dan juga dapat dikatakan unik karena aksen penyiarnya yang bukan asli orang Indonesia tetapi orang China yang khusus belajar bahasa Indonesia.
Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno mendeklarasikan apa yang ia sebut poros Jakarta-Phnom Penh-Hanoi-Peking-Pyongyang. Bung Karno dikenal sangat dekat dan akrab dengna pemimpin komunis dunia seperti RRC, Mao Tse Tung dan Chou Enlai, Kuba, Fidel Castro dan Uni Soviet, Nikita Kruschev. Kedekatan inilah yang menyebabkan AS ketar-ketir dan ditafsirkan sebagai sesuatu yang amat berbahaya.
Kemudian, tindakan pun diambil oleh Soeharto dengan menutup Kedubes RI di Peking dan sebaliknya. Lalu, the game begins. Indonesia mengusir para diplomat China dan bahkan mengusir orang China yang lahir di Indonesia. Mereka disuruh memilih Indonesia atau China. Jika ragu pun pada akhirnya mereka diterbangkan ke Daratan Cina. Setelah menjadi WNI, orang China tersebut diharuskan mengganti nama mereka menjadi yang berbau Indonesia.
Sejak Soeharto menerima Supersemar, ia menelanjangi sedikit demi sedikit kekuasaan Bung Karno dan ia dengan teganya mengenakan status tahanan rumah pada Bung Karno dan parahnya lagi melarang Bung Karno keluar rumah sekedar menghirup udara segar atau bercengkrama dengan rakyatnya. Bangsa Indonesia dibangun Soeharto oleh uang haram Imperialisme AS, Yahudi dan Eropa dengan cara mengkhianati pemimpin bangsanya sendiri, Presiden Soekarno. Uang itu juga dikorup oleh Soeharto dan kroninya.
Terakhir, Indonesia telah dijual kepada Imperialisme. Maka tidaklah mengherankan jika lobi Yahudi sangat kuat di Indonesia dari Soeharto berkuasa hingga sekarang dari segi ekonomi, politik, agama dan budaya. Bahkan lobi Yahudi sudah merambah ke pemilihan presiden seperti di AS.
Label: Crime, Indonesia, Sejarah, Tokoh Indonesia
Diposting oleh Ihdam di 11.42 0 komentar
Sang Penjilat Imperialisme, SOEHARTO... (part II)
Perombakan Soeharto yang paling nyata adalah di bidang politik luar negeri. Setelah Soeharto berkuasa, Indonesia langsung memutuskan hubungan diplomatiknya dengan RRC karena RRC dianggap sebagai salah satu negara komunis di belakang G/30S PKI. Kebijakan politik luar negeri Indonesia berpihak pada AS karena Soeharto diangkat menjadi presiden oleh AS menggantikan Soekarno.
Maka tak heran jika pada 20 Mei 1998, kekuasaan Soeharto dicopot oleh Menlu AS, Madeline Albright karena perjanjian kontrak penguasaan Indonesia oleh rezim Imperialisme hanya 25 tahun sedangkan Soeharto memimpin hingga 32 tahun dan juga karena faktor sudah hilangnya rasa suka AS terhadap Soeharto.
Hanya dengan melalui sebuah SLI dari AS, Soeharto dengan rasa takut pada AS akhirnya meninggalkan jabatannya dan bukan atas desakan rakyatnya sebagaimana yang digembor-gemborkan selama ini dan ternyata sebenarnya kekuasaan Soeharto bukan lewat Supersemar yang sampai sekarang pun belum diketahui jelas apa isinya tetapi lewat Secret Operation, konspirasi antara dirinya dengan AS dan Yahudi.
Label: Crime, Indonesia, Sejarah, Tokoh Indonesia
Diposting oleh Ihdam di 11.07 0 komentar
Sang Penjilat Imperialisme, SOEHARTO... (part I)
De-Soekarnoisasi, kebijakan politik yang dibuat oleh pemerintahan Orde Baru dibawah komando Jenderal Soeharto yang digunakan untuk memperkecil peranan, kehadiran dan pengaruh kuat Soekarno dalam ingatan bangsa Indonesia. Beberapa buku Soekarno dilarang beredar di seluruh Indonesia.
Buku dibawah Bendera Revolusi disita. Suharto dan Imperialisme AS beserta antek-anteknya takut dengan nasionalisme Soekarno. Langkah lain untuk semakin menghilangkan jejak Soekarno dalam sejarah Indonesia adalah mengganti nama Seokarno yang diberikan pada nama jalan atau bangunan seperti SUGBK menjadi Stadion Utama Senayan, kota Soekarnopura (sebelumnya bernama Hollandia) menjadi Jayapura dan juga Puncak Soekarno menjadi Puncak Jaya.
Parahnya lagi, keinginan Soekarno untuk dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor ditolak mentah-mentah oleh Soeharto dan malah dimakamkan di Blitar, tempat asalnya. Soeharto juga menganggap Soekarno komunis dan terlibat dalam G/30 S PKI. Soeharto benar-benar menghancurkan setiap elemen yang mengandung Soekarno, yang baginya adalah virus.
Label: Crime, Indonesia, Sejarah, Tokoh Indonesia
Diposting oleh Ihdam di 10.24 0 komentar