Di bidang media, tak lama setelah PKI dilarang, Radio Peking tercatat sebagai salah satu yang paling keras menyuarakan berita propaganda anti-Indonesia yang dipimpin Soeharto. Siaran bahasa Indonesia Radio Peking itu sangat populer di Indonesia dan juga dapat dikatakan unik karena aksen penyiarnya yang bukan asli orang Indonesia tetapi orang China yang khusus belajar bahasa Indonesia.
Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno mendeklarasikan apa yang ia sebut poros Jakarta-Phnom Penh-Hanoi-Peking-Pyongyang. Bung Karno dikenal sangat dekat dan akrab dengna pemimpin komunis dunia seperti RRC, Mao Tse Tung dan Chou Enlai, Kuba, Fidel Castro dan Uni Soviet, Nikita Kruschev. Kedekatan inilah yang menyebabkan AS ketar-ketir dan ditafsirkan sebagai sesuatu yang amat berbahaya.
Kemudian, tindakan pun diambil oleh Soeharto dengan menutup Kedubes RI di Peking dan sebaliknya. Lalu, the game begins. Indonesia mengusir para diplomat China dan bahkan mengusir orang China yang lahir di Indonesia. Mereka disuruh memilih Indonesia atau China. Jika ragu pun pada akhirnya mereka diterbangkan ke Daratan Cina. Setelah menjadi WNI, orang China tersebut diharuskan mengganti nama mereka menjadi yang berbau Indonesia.
Sejak Soeharto menerima Supersemar, ia menelanjangi sedikit demi sedikit kekuasaan Bung Karno dan ia dengan teganya mengenakan status tahanan rumah pada Bung Karno dan parahnya lagi melarang Bung Karno keluar rumah sekedar menghirup udara segar atau bercengkrama dengan rakyatnya. Bangsa Indonesia dibangun Soeharto oleh uang haram Imperialisme AS, Yahudi dan Eropa dengan cara mengkhianati pemimpin bangsanya sendiri, Presiden Soekarno. Uang itu juga dikorup oleh Soeharto dan kroninya.
Terakhir, Indonesia telah dijual kepada Imperialisme. Maka tidaklah mengherankan jika lobi Yahudi sangat kuat di Indonesia dari Soeharto berkuasa hingga sekarang dari segi ekonomi, politik, agama dan budaya. Bahkan lobi Yahudi sudah merambah ke pemilihan presiden seperti di AS.
Selasa, 29 September 2009
Sang Penjilat Imperialisme, SOEHARTO... (part III)
Label: Crime, Indonesia, Sejarah, Tokoh Indonesia
Diposting oleh Ihdam di 11.42
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar